• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 02 Januari 2017

Sidang Ahok Tak Disiarkan Secara Langsung, Ini Alasannya

Jakarta -- Sidang dugaan penistaan Alquran dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mulai dengan memeriksaan sejumlah saksi yang digelar di Auditorium Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (3/1). Namun hakim melarang untuk media televisi menyiarkannya secara langsung.

''Persidangan ini tidak live, untuk itu kameramen dipersilakan keluar, di ruangan ini hanya wartawan cetak dan tulis dan reporter. Silakan,'' kata Ketua majelis hakim, Dwiarso Budi Santiarto‎, di Auditorium Kementerian Pertanian, Selasa (3/1) seperti dikutip republika.

Namun ternyata, sikap polisi berbeda dengan keputusan hakim. Seluruh Awak media dilarang masuk ke dalam ruang sidang. 

Meski beberapa kali mencoba dialog dengan kepolisian, namun mereka tetap tidak mengizinkan media untuk meliput. Sekalipun ada yang masuk ke ruang sidang, tidak diperbolehkan untuk membawa handphone maupun alat elektronik lainnya.

Sementara itu advokat GNPF MUI menjelaskan alasan tertutupnya jalan sidang tersebut. 

Berikut ini penjelasannya:
Soal sidang ke-4 ahok dgn agenda mendengarkan keterangan saksi JPU hari ini memang tidak disiarkan secara langsung sesuai peraturan persidangan. Pertimbangannya, saksi yg belum dihadirkan tidak boleh mendengar keterangan saksi yg telah didengar kesaksiannya di persidangan. Ini untuk menjaga netralitas saksi dalam menyampaikan keterangan pada gilirannya nanti. Agar pendapat keahliannya tidak terpengaruh dgn saksi sebelumnya. Ini yg saya ketahui karena saya pernah menjadi hakim/majelis komisioner di persidangan sengketa informasi publik di komisi informasi provinsi. Mohon maaf jika ada yg kurang tepat.
Share:

HIKMAH KISAH BURUNG GAGAK

BUGHATS (BURUNG GAGAK)


Oleh: Munari Abdillah

Seorang ulama dari Suriah bercerita tentang do'a yang selalu ia lantunkan. Ia selalu mengucapkan do'a seperti berikut ini.

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺭﺯُﻗﻨَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮﺯُﻕُ ﺍﻟﺒُﻐَﺎﺙََ 

Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kepada bughats. 

Apakah "bughats" itu?
Dan bagaimana kisahnya?

"Bughats" anak burung gagak yang baru menetas. Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yang disebut "bughats". 

Ketika sudah besar dia menjadi gagak (ghurab).
Apa perbedaan antara bughats dan ghurab?

Telah terbukti secara ilmiah, anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Kulitnya berwarna putih.
Saat induknya menyaksikanya, ia tidak terima itu anaknya, hingga ia tidak mau memberi makan dan minum, lalu hanya mengintainya dari kejauhan saja.

Anak burung kecil malang yang baru menetas dari telur itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang.

Lalu bagaimana ia makan dan minum...?
Allah Yang Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya.

Allah menciptakan _aroma_ tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak tersebut sehingga mengundang datangnya serangga ke sarangnya. Lalu berbagai macam ulat dan serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak dan ia pun memakannya.
ماشاءالله
Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh.

Ketika itu barulah gagak mengetahui itu anaknya dan ia pun mau memberinya makan sehingga tumbuh dewasa untuk bisa terbang mencari makan sendiri.

Secara otomatis aroma yang keluar dari tubuhnya pun hilang dan serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.

Dia-lah Allah, Ar Razaq, Yg Maha Penjamin Rezeki.

... نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا 

...Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia...
(QS. Az-Zukhruf: Ayat 32)

Rezekimu akan mendatangimu di mana pun engkau berada, selama engkau menjaga ketakwaanmu kepada Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam:

"Sesungguhnya Malaikat Jibril membisikkan di dalam qalbuku bahwa seseorang tidak akan meninggal sampai sempurna seluruh rezekinya. Ketahuilah, bertaqwalah kepada Allah, dan perindahlah caramu meminta kepada Allah. Jangan sampai keterlambatan datangnya rezeki membuatmu mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya tidak akan didapatkan sesuatu yang ada di sisi Allah kecuali dengan menta'atinya."

Jadi tidaklah pantas bagi orang-orang yang beriman berebut rezeki dan seringkali tidak mengindahkan halal haramnya rezeki itu dan cara memperolehnya.

Mari introspeksi diri, apakah muamalah dan pekerjaan yang kita lakukan ini sudah sesuai hukum الله atau belum. Mengetahui status hukum perbuatan dulu baru berbuat.

Itulah sikap selayaknya seorang muslim.

اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

“Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.” (HR. Ahmad)

Oleh sebab itu wahai kaum muslim, janganlah kita takut akan kurangnya rezeki, Allah Subhanahuwata'ala sudah mengatur rezeki. Sadarilah kitalah yang sebenarnya tidak pernah puas dan qanaah (menerima) dalam mensyukuri nakmat. Perbanyaklah bersyukur dan beristiqfar agar kita disayang Allah Subhanahuwata'ala.

Selamat bekerja.
Semoga hidup kita dicukupkan oleh rezeki yang halalan thoyyiban dan dipenuhi keberkahan didalam mencari karunia Allah Subhanahuwata'ala diatas muka bumi ini.

آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين

والله أعلمُ بالـصـواب

باركالله فيكم

Semoga ada manfaatnya.



Share:

IHH Akan Menggugat Atas Fitnah Memberikan Bantuan Teroris di Suriah


ISTANBUL -  Insani Yardim Vakfi atau IHH, badan kemanusiaan internasional berpusat di Turki menyatakan takkan berdiam diri atas beredarnya tuduhan pihaknya terlibat bantuan teroris di Suriah. Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal IHH, Yavus Dede, kepada Aksi Cepat Tanggap (ACT) saat bertemu dalam pengukuhan kerjasama antara ACT dengan IHH, di kantor IHH di Istanbul, Jum’at (30/12).

Yavus menjelaskan, pihaknya juga mendapatkan informasi serta terus memantau perkembangan lontaran isu-isu bernada tuduhan di Indonesia. Terkait tuduhan oknum tertentu di Indonesia yang beredar viral, IHH menyiapkan tim pengacara di Jakarta untuk menggugat pencemaran nama baik lembaganya. "Kalau dibiarkan, maka orang akan menganggapnya sebagai kebenaran. Harus diambil langkah hukum untuk menjaga nama baik kami," ujarnya.

Yavus melanjutkan, langkah ini juga dilakukan karena Indonesia ‎negara penting dan berpenduduk muslim terbesar di dunia. Menurut Yavus, pihaknya perlu menyampaikan hal itu kepada ACT karena ACT menjadikan IHH mitra strategisnya.

Terkait hal ini, Senior Vice President ACT, Syuhelmaidi Syukur menegaskan, ACT sendiri sudah lama menjalin kerjasama dengan IHH tak hanya dalam merespon krisis kemanusiaan Suriah. Terkait rencana IHH membawa ke ranah hukum fitnah atas dirinya, ACT siap memberi dukungan maksimal.

"Kerja kemanusiaan ini, sudah cukup berat. Keterlaluan jika dipolitisasi, difitnah dan diseret ke isu terorisme. Tak ada kata lain, harus dilawan dengan hukum. Kita tak boleh membiarkan kekuatan anti-kemanusiaan memfitnah pegiat kemanusiaan seenaknya," ungkap Syuhelmaidi.  Apalagi, imbuh Syuhel, ACT serius berperan optimal menolong warga Suriah korban konflik yang menjadi pengungsi terutama di wilayah Turki dengan membuka cabang di Turki. "Ini juga meneguhkan peran ACT di ranah global," ujar Syuhel.

Syuhel juga menegaskan, negara yang hingga saat ini membuka diri menolong umat manusia yang dilanda krisis di berbagai belahan dunia adalah Turki. Turki banyak berbuat untuk kemanusiaan, hal yang tak banyak dilakukan negara lain. "Dan IHH sebagai badan kemanusiaan di Turki, gamblang menunjukkan peran itu," imbuh Syuhel. Aksi Cepat Tanggap terpanggil membela sesama badan kemanusiaan. "Semoga kita sadar untuk tidak membiarkan fitnah merajalela," pungkasnya.[]

Sumber : ACT.ID
Share:

Inilah Para Jagoan Wanita Islam


Muslimah & Mujahidah  Jika kita membaca sejarah para sahabat perempuan di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam, kita akan banyak menemukan kekaguman-kekaguman yang luar biasa. Mereka bukan hanya berilmu, berakhlaq, pandai membaca Al Qur’an, tapi juga jago pedang, berkuda dan memanah, dan tidak sedikit yang juga menjadi “dokter” yang pintar mengobati para sahabat yang terluka di medan perang. Bahkan, ada di antara mereka yang terpotong tangannya karena melindungi Rasulullah! Subhanallah… Simak kisah mereka..

Nusaibah si Jago Pedang
Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang mulia berdiri di puncak bukit Uhud dan memandang musuh yang merangsek maju mengarah pada dirinya. Beliau memandang ke sebelah kanan dan tampak olehnya seorang perempuan mengayun-ayunkan pedangnya dengan gagah perkasa melindungi dirinya. Beliau memandang ke kiri dan sekali lagi beliau melihat wanita tersebut melakukan hal yang sama – menghadang bahaya demi melindungi sang pemimpin orang-orang beriman.
Kata Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam kemudian, “Tidaklah aku melihat ke kanan dan ke kiri pada pertempuran Uhud kecuali aku melihat Nusaibah binti Ka’ab berperang membelaku.”
Memang Nusaibah binti Ka’ab Ansyariyah demikian cinta dan setianya kepada Rasulullah sehingga begitu melihat junjungannya itu terancam bahaya, dia maju mengibas-ngibaskan pedangnya dengan perkasa sehingga dikenal dengan sebutan Ummu Umarah, adalah pahlawan wanita Islam yang mempertaruhkan jiwa dan raga demi Islam termasuk ikut dalam perang Yamamah di bawah pimpinan Panglima Khalid bin Walid sampai terpotong tangannya. Ummu Umarah juga bersama Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam dalam menunaikan Baitur Ridhwan, yaitu suatu janji setia untuk sanggup mati syahid di jalan Allah.
Nusaibah adalah satu dari dua perempuan yang bergabung dengan 70 orang lelaki Ansar yang berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam. Dalam baiat Aqabah yang kedua itu ia ditemani suaminya Zaid bin Ahsim dan dua orang puteranya: Hubaib dan Abdullah. Wanita yang seorang lagi adalah saudara Nusaibah sendiri. Pada saat baiat itu Rasulullah menasihati mereka, “Jangan mengalirkan darah denga sia-sia.”
Dalam perang Uhud, Nusaibah membawa tempat air dan mengikuti suami serta kedua orang anaknya ke medan perang. Pada saat itu Nusaibah menyaksikan betapa pasukan Muslimin mulai kocar-kacir dan musuh merangsek maju sementara Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam berdiri tanpa perisai. Seorang Muslim berlari mundur sambil membawa perisainya, maka Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam berseru kepadanya, “berikan perisaimu kepada yang berperang.” Lelaki itu melemparkan perisainya yang lalu dipungut oleh Nusaibah untuk melindungi Nabi.
Ummu Umarah sendiri menuturkan pengalamannya pada Perang Uhud, sebagaimana berikut: “…saya pergi ke Uhud dan melihat apa yang dilakukan orang. Pada waktu itu saya membawa tempat air. Kemudian saya sampai kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang berada di tengah-tengah para sahabat. Ketika kaum muslimin mengalami kekalahan, saya melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam, kemudian ikut serta di dalam medan pertempuran. Saya berusaha melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam dengan pedang, saya juga menggunakan panah sehingga akhirnya saya terluka.”
Ketika ditanya tentang 12 luka ditubuhnya, Nusaibah menjawab, “Ibnu Qumaiah datang ingin menyerang Rasulullah ketika para sahabat sedang meninggalkan baginda. Lalu (Ibnu Qumaiah) berkata, ‘mana Muhammad? Aku tidak akan selamat selagi dia masih hidup.’ Lalu Mushab bin Umair dengan beberapa orang sahabat termasuk saya menghadapinya. Kemudian Ibny Qumaiah memukulku.”
Rasulullah juga melihat luka di belakang telinga Nusaibah, lalu berseru kepada anaknya, “Ibumu, ibumu…balutlah lukanya! Ya Allah, jadikanlah mereka sahabatku di surge!” Mendengar itu, Nusaibah berkata kepada anaknya, “Aku tidak perduli lagi apa yang menimpaku di dunia ini.”
Subhanallah, sungguh setianya beliau kepada baginda Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam.
Khaulah binti Azur (Ksatria Berkuda Hitam)
Siapa Ksatria Berkuda Hitam ini? Itulah Khaulah binti Azur. Dia seorang muslimah yang kuat jiwa dan raga. Sosok tubuhnya tinggi langsing dan tegap. Sejak kecil Khaulah suka dan pandai bermain pedang dan tombak, dan terus berlatih sampai tiba waktunya menggunakan keterampilannya itu untuk membela Islam bersama para mujahidah lainnya.
Diriwayatkan betapa dalam salah satu peperangan melawan pasukan kafir Romawi di bawah kepemimpinan Panglima Khalid bin Walid, tiba-tiba saja muncul seorang penunggang kuda berbalut pakaian serba hitam yang dengan tangkas memacu kudanya ke tengah-tengah medan pertempuran. Seperti singa lapar yang siap menerkam, sosok berkuda itu mengibas-ngibaskan pedangnya dan dalam waktu singkat menumbangkan tiga orang musuh.
Panglima Khalid bin Walid serta seluruh pasukannya tercengang melihat ketangkasan sosok berbaju hitam itu. Mereka bertanya-tanya siapakah pejuang tersebut yang tertutup rapat seluruh tubuhnya dan hanya terlihat kedua matanya saja itu. Semangat jihad pasukan Muslimin pun terbakar kembali begitu mengetahui bahwa the Black Rider, di penunggang kuda berbaju hitam itu adalah seorang wanita!
Keberanian Khaulah teruji ketika dia dan beberapa mujahidah tertawan musuh dalam peperangan Sahura. Mereka dikurung dan dikawal ketat selama beberapa hari. Walaupun agak mustahil untuk melepaskan diri, namun Khaulah tidak mau menyerah dan terus menyemangati sahabat-sahabatnya. Katanya, “Kalian yang berjuang di jalan Allah, apakah kalian mau menjadi tukang pijit orang-orang Romawi? Mau menjadi budak orang-orang kafir? Dimana harga diri kalian sebagai pejuang yang ingin mendapatkan surga Allah? Dimana kehormatan kalian sebagai Muslimah? Lebih baik kita mati daripada menjadi budak orang-orang Romawi!”
Demikianlah Khaulah terus membakar semangat para Muslimah sampai mereka pun bulat tekad melawan tentara musuh yang mengawal mereka. Rela mereka mati syahid jika gagal melarikan diri. “Janganlah saudari sekali-kali gentar dan takut. Patahkan tombak mereka, hancurkan pedang mereka, perbanyak takbir serta kuatkan hati. Insya Allah pertolongan Allah sudah dekat.
Dikisahkan bahwa akhirnya, karena keyakinan mereka, Khaulah dan kawan-kawannya berhasil melarikan diri dari kurungan musuh! Subhanallah…
Nailah si Cantik yang Pemberani
Nailah binti al-Farafishah adalah istri Khalifah Ustman bin Affan. Dia terkenal cantik dan pandai. Bahkan suaminya sendiri memujinya begini: “Saya tidak menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya dari dirinya. Saya tidak segan apabila ia mengalahkan akalku.” Subhanallah!
Mereka menikah di Madinah al-Munawwarah dan sejak itu Ustman kagum pada tutur kata dan keahlian Nailah di bidang sastra. Karena cintanya, Ustman paling senang memberikan hadiah untuk istrinya itu. Mereka punya satu orang anak perempuan, Maryan binti Ustman.
Ketika terjadi fitnah yang memecah belah umat Islam pada tahun 35 Hijriyah, Nailah ikut mengangkat pedang untuk membela suaminya. Seorang musuh menerobos masuk dan menyerang dengan pedang pada saat Ustman sedang memegang mushaf atau Al Qur’an. Tetesan darahnya jatuh pada ayat 137 surah Al Baqarah yang berbunyi, “Maka Allah akan memelihara engkau dari mereka.”
Seseorang pemberontak lain masuk dengan pedang terhunus. Nailah berhasil merebut pedang itu namun si musuh kembali merampas senjata itu, dan menyebabkan jari-jari Nailah terputus Ustman syahid karena sabetan pedang pemberontak. Air mata Nailah tumpah ruah saat memangku jenazah sang suami. Ketika kemudian ada musuh yang dengan penuh kebencian menampari wajah Ustman yang sudah wafat itu, Nailah lalu berdoa, “Semoga Allah menjadikan tanganmu kering, membutakan matamu dan tidak ada ampunan atas dosa-dosamu!”
Dikisahkan dalam sejarah bahwa si penampar itu keluar dari rumah Ustman dalam keadaan tangannya menjadi kering dan matanya buta!
Sesudah Ustman wafat, Nailah berkabung selama 4 bulan 10 hari. Ia tak berdandan dan berhias dan tidak meninggalkan rumah Ustman ke rumah ayahnya.
Nailah memandang kesetiaan terhadap suaminya sepeninggalnya lebih berpengaruh dan lebih besar dari apa yang dilihatnya terhadap ayahnya, saudara perempuannya, ibunya dan juga kerabatnya. Ia selalu mendahulukan keutamaannya, mengingat kebaikannya di setiap tempat dan kesempatan. Ketika Ustman terbunuh, ia mengatakan, “Sungguh kalian telah membunuhnya padahal ia telah menghidupkan malam dengan Al Qur’an dalam rangkaian rakaat.”
Subhanallah yah, ternyata umat muslim juga memiliki jagoan wanita yang memang nyata adanya, semoga kita, para muslimah dapat mengambil teladan dari mereka, aamiin.
Sumber: • Al-Ekhlaas Islamic Page  dan Arrahmah.com

Share:

Mengenal Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy : Pejuang Militan dan Konsisten Hingga Lanjut Usia

Hari terbaik, bahkan induknya hari, mengiringi adzan shalat Shubuh, menjadi waktu wafatnya Imaamul Muslimin Syaikh Muhyiddin Hamidy (81 tahun atau 84 tahun kalender Hijriyah), Lahir Sawah Lunto, Padang, Sumatera, 21 Desember 1933 atau tahun 1352 Hijriyah. Wafat pada Jumat 18 Shafar 1436 H. bertepatan 12 Desember 2014 M. sekitar pukul 04.15 Waktu Indonesia Barat (WIB), di kediaman almarhum Kompleks Pondok Pesantren Al-Fatah Al-Muhajirun, Desa Negararatu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Indonesia.

Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy (alm) – Dok Al-Fatah
Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy (alm) – Dok Al-Fatah


Dunia Islam Berduka
Dunia Islam berduka atas wafatnya Khalifah kaum Muslimin, pemegang amanah pimpinan pembebasan Al-Aqsha hasil Konferensi Al-Quds Bandung 2012. Betapa, sebagian besar waktu hidup almarhum digunakan untuk menegakkan kalimah Allah, khususnya dalam memperjuangkan Al-Aqsha.

Kalimat-kalimat dukacita pun datang dari berbagai tokoh perjuangan dunia Islam, di antaranya, Syaikh Dr. Mahmoud Anbar, Dekan Ulumul Quran Universitas Islam Gaza, begitu mendengar berita duka tersebut, ia menyebutkan di akun jejaring sosialnya, “Syaikh Muhyiddin Hamidy, pemimpin yang hebat dan kuat, telah meninggalkan jejak-jejak kebaikan, terutama terkini seperti pembangunan Masjid An-Nubuwwah yang memfungsikan masjid sesuai tuntunan Nabi serta Shuffah Al-Quran Abdullah bin Mas’ud Online, pengajaran Al-Quran jarak jauh secara online”.

Menurut salah satu pengajar Shuffah Al-Quran dari Gaza melalui skype itu, almarhum merupakan pemimpin terbaik yang Allah pilih, wafat pada hari terbaik, pada waktu terbaik menjelang Shubuh, ujarnya, mengungkap kesedihan mendalam.

Sosok juang Syaikh Hamidy, disampaikan juga oleh Juru Bicara Harakah Jihad Islami Palestina di Jalur Gaza, Syaikh Omar Shallah, dalam siaran resminya, menyebutkan lurusnya pandangan almarhum, dalam melihat permasalahan muslimin, terutama masalah Al-Aqsha dan Palestina.

“Konsistensinya dalam perjuangan dan dalam sosialisasi Palestina dan Al-Aqsha, patut diteruskan,” katanya saat menyampaikan belasungkawanya melalui relawan Indonesia dari Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Jumat (12/12/204).

Syaikh Dr. Aly Al-Abbasy, Imaam Besar Masjid Al-Aqsha di Al-Quds, Wilayah Tepi Barat, begitu menerima informasi wafatnya sahabat seperjuangannya, Syaikh Hamidy, langsung menyeru kepada jama’ah Masjid Al-Aqsha untuk mendoakannya dari kawasan bumi penuh berkah, dari kawasan Isra Mi’raj Nabi, kiblat pertama umat Islam, Al-Quds Palestina.

“Kami semua jamaah Masjid Al-Aqsha mendoakan agar Imaamul Muslimin Syaikh Muhyiddin Hamidy diberikan tempat yang tertinggi oleh Allah di syurga-Nya dan dipertemukan dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atas upayanya dan kecintaannya terhadap Al-Aqsha semasa hidupnya,” ujar Syaikh Abbasy.
Imaam Al-Aqsha Syaikh Aly al-Abbasy (kiri) dan Imaam Syaikh Muhyiddin Hamidy (kanan) – Dok. Al-Fatah
Imaam Al-Aqsha Syaikh Aly al-Abbasy (kiri) dan
Imaam Syaikh Muhyiddin Hamidy (kanan) –
Dok. Al-Fatah

 Al-Abbasy kenal dekat dengan almarhum saat mendapat undangan dari almarhum untuk menghadiri Konferensi Internasional tentang Pembebasan Masjid Al-Aqsa di Bandung pada tanggal 14-15 Sya’ban 1433 H. / 4-5 Juli 2012 M. lalu.

“Kami pernah diundang oleh Imaam Muhyiddin Hamidy untuk menghadiri konferensi internasional yang diikuti oleh aktivis Palestina dari berbagai negara bertempat di Bandung” ujarnya, memberikan penghargaan tertinggi atas beberapa kali upaya Imaam Hamidy menerobos ke Masjid Al-Aqsha dan berhasil shalat di dalamnya, termasuk waktu pelaksanaan Global March to Jerussalem (GMJ) tahun 2012.

Isteri Al-Abbasy, Ummi Aisyah, secara khusus mengirimkan ucapan belasungkawa melalui elekttronik mail ke Onny Firyanti, puteri bungsu almarhum.

“Salam, belasungkawa dari hati terdalam, semoga almarhum dimasukkan ke dalam surga,” ujar Aisyah.

Dari kawasan Asia, terkirim ucapan duka cita dari Ustadz Dr. Abdullah Abu Bakar al-Fathoni, atas nama Majlis Agama Islam Pattani, Thailand, yang secara resmi mengucapkan ta’ziyah belasungkawa atas wafatnya Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Syaikh Muhyiddin Hamidy pada Jumat (12/12/2014) kemarin.

“Kami para ulama khususnya di Pattani, Thailand, dengan ini mengucapkan ta’ziyah kepada semua keluarga Imaamul Muslimin, kaum muslimin di Indonesia, keluarga besar Al-Fatah di seluruh Indonisia, serta warga Jama’ah Muslimin (Hizbullah),” ujar Ustadz Abdullah, Mudir Ma’had At-Tazkiyyah ad-Diniyyah Yala, Pattani, yang berencana memenuhi undangan Imaam di Lampung dalam dialog Muslim Indonesia-Pattani, 21-22 Desember mendatang.

Walau belum terlalu lama kenal, baru sekitar setahun lalu, namun visi perjuangannya yang jauh ke depan, membuat ia merasakan kehilangan seorang tokoh ulama dunia.

“Semoga Imaam Hamidy dikumpulkan bersama dengan para Nabi, orang-orang sholeh, shiddiqin, dan para syuhada,” doanya.

Beberapa aktivis masalah Palestina mengungkapkan rasa duka senada, di antaranya datang dari Ustadz Herri Nurdi (Penulis buku-buku tentang Zionisme Internasional), Ustadz Ferry Nur (Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina/KISPA), Ustadz Agus Sudarmaji (Ketua Aqsa Working Group/AWG), dan lainnya.

Ustadz Ferry Nur bersama kaum muslimin di Jakarta bahkan melaksanakan shalat ghaib untuk almarhum di Masjid Metropilitan Jakarta, siusai shalat Jumat.

Naufal Mahfudz, Direktur Sumber Daya Manusia LKBN Antara, menambahkan saat berta’ziyah ke rumah duka, bahwa sosok almarhum merupakan organisatoris dan manajer ulung pada sebuah kantor berita besar Antara dan setelah pensiun di Kantor berita Islam MINA.

“Almarhum banyak memberikan contoh teladan untuk generasi berikutnya, yatu dengan kerja kerasnya, yang tak kenal lelah, serta kedisiplinan yang luar biasa dalam mengerjakan suatu program”, ujar Naufal.

Ia menambahkan, integritas dan spiritualitas yang luar biasa, juga menjadi bobot tersendiri pada almarhum, terutama di penghujung usianya dalam mengelola dan mengembangkan pesantren Al-Fatah, serta berdakwah yang tak kenal lelah hingga akhir ayat.

 Konsisten Hingga Akhir Hayat
 
Pada usia di atas 80 tahun bukanlah usia muda lagi untuk perjuangan umat dan dunia Islam tingkat dunia, yang bersifat rahmatan lil ‘alamin.


Imam pada Acara Konferensi Pembebaasan Masjid Al-Aqsa, Bandug Juli 2012 M
Imam pada Acara Konferensi Pembebaasan Masjid Al-Aqsa,
Bandug Juli 2012 M

Namun, bagi mantan Sekreteris Lembaga (Seklem) Lembaga Kantor Berita Nasional (LBKN) Antara Jakarta selama lebih kurang 15 tahun tersebut, serta terakhir Pembina Utama Pondok Pesantren Al-Fatah se-Indonesia tersebut, usia lanjut bukanlah halangan.

Usia boleh senja, namun bagi bekas wartawan Arab Press Buerau (APB) itu, dan terakhir Pemimpin Umum merangkap Pemimpin Redaksi Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency), semangat juangnya selalu konsisten bahkan terus menggelora manakala bicara perjuangan umat, nasib kaum Muslimin tertindas, ukhuwwah, apalagi kalau bicara soal Al-Aqsha Palestina.

Almarhum menggagas Konferensi Internasional untuk Pembebasan Al-Quds dan Palestina di bandung 2012, dan pendirian Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) tahun 2012 juga dalam rangka menghadang hegemoni pemberitaan Barat yang cenderung mendeskreditkan Islam dan Muslimin.

Saat Soft Launching MINA, pada Hari Raya Idul Adha, Jumat, 10 Dzulhijjah 1433 H. / 26 Oktober 2012 M., Imaam almarhum menyampaikan fatwa pendirian MINA, yaitu MINA adalah juru bicara kaum muslimin dalam menunaikkan tugas dari Allah menyampaikan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

“MINA adalah cahaya kebenaran, keadilan, keamanan, kedamaian, kejujuran serta amanah menurut Islam, dengan demikian maka ia adalah furqan (pembeda) antara haq dan bathil,” bunyi fatwa.

“Imaam Hamidy merupakan pejuang yang konsisten, militan, berwawasan luas dan tokoh pemersatu visi perjuangan umat,” ujar dr. Joserizal Jurnalis, Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), saat berta’ziyah ke rumah duka Jumat malam (12/12/2014), di tengah hujan rintik-rintik membahasi bumi Muhajirun, Lampung, membahasi pusara Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy, yang terletak di samping rumahnya, tidak jauh dari Masjid At-Taqwa kompleks Pesantren Al-Fatah.

Menurut Jose, yang sedang merampungkan pembangunan dan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, semangat Imaam almarhum patut menjadi contoh oleh aktivis pejuang muslim bahwa berjuang dari muda sampai usia lanjut.

Melalui amanah Imaam pula, terkirim tak kurang lebih 30 orang mujahid relawan kemanusiaan yang membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Serta melalui amanah Imaam pula terkirim sekitar 30 relawan membangun perluasan Masjidil Haram, Mekkah al-Mukarramah.

Senada dengan itu, Ir. Farid Thalib, Kepala Divisi Pembangunan MER-C yang juga Pendiri Radio Silaturrahim (Rasil) menyebut, Imaam almarhum sebagai sosok yang menjadi inspirator, penggerak dan penyemangat yang selalu berapi-api dalam segala kebaikan, walau dalam usia senja.

“Almarhum Imaam Muhyiddin Hamidy adalah figur besar dalam melaksanakan dan menegakkan keadilan serta kebenaran di muka bumi ini,” papar Farid dalam ta’ziyahnya ke rumah duka.

Ia berharap, umat Islam dapat melanjutkan perjuangannya dalam pembebasan Al-Aqsha dan Palestina dengan bersatu.

“Selamat jalan Imaam, ya Allah terimalah seluruh kebaikannya dan ampunilah segala kekhilafannya,” doanya untuk penggagas Aqsa Working Group itu, sedih duka begitu mendalam terlihat dari raut mukanya.

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga yang aktif dalam kegiatan keislaman, Dr. Adhyaksa Dault, yang juga dikenal dekat dengan almarhum, turut hadir dalam prosesi pemakaman almarhum, tidak sanggup mengungkapkan dengan kata-kata.

Ia hanya menangis tersedu-sedu hampir sepanjang prosesi pemakaman, saat ada yang menelepon, saat di dalam ruangan, ia terlihat sesenggukan menangisi kepergian Imaam yang juga ia sebut sebagai ayahandanya.

“Beliau dalam tiap pertemuannya selalu berbicara tentang bagaimana umat, umat dan umat Islam,” ujarnya.

Teringat saat ia berkordinasi dengan Imaam mengirimkan tim ukhuwah untuk bencana tsunami di Aceh tahun 2004 silam.

Waktu itu, Imaam bersama sejumlah 130 relawan kemanusiaan utusan Jama’ah Muslimin (Hizbullah), terjun langsung mengangkat mayat-mayat yang bergepimpangan akibat terjangan tsunami, untuk diurus dan dimakamkan sesuai syariat Islam.

Di Mata Keluarga
 
Ayahanda Muhyiddin Hamidy, adalah sosok ayah dari 7 anak (3 putera dan 4 puteri) serta kakek bagi 10 cucu itu, merupakan figur yang sangat dicintai dan dihormati di lingkungan keluarganya karena kebaikannya.

Dari isteri pertama, ibunda Djalius (alm), almarhum meninggalkan 4 anak: Medi Ali Usman (memiliki 2 anak), Ade Antilia (2 anak), Ritna Tria Andini (2 anak) dan Onny Firyanti.

Penulis bersama keluarga Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy (alm). Dok Pribadi
Penulis bersama keluarga Imaamul Muslimin
Muhyiddin Hamidy (alm). (Dok Pribadi Sumber)

 Dari isteri kedua, Deri Kiemas (adik kandung Taufik Kiemas alm, mantan Ketua MPR RI), meninggalkan 3 anak : Siti Khadijah Nurillah (memiliki 1 anak), Abu Bakar Siddiq, dan Ahmad Tawakkal Ramadhan ( 3 anak).

Dari isteri ketiga Ummi Hanifah al-Hafidzah, tidak punya anak.

“Saya sebagai isteri, beliau menyaksikan, betapa beliau tidak pernah melupakan shalat malam, di samping shalat dhuha tiap pagi dan shaum Senin Kamis tiap pekan,” ujar Ummi Hanifah isterinya.

Kebiasaan lainnya dari Imaam menurutnya adalah bershadaqah tiap hari Jumat, kadang untuk jariyah masjid, memberi makan kaum dhuafa atau memberi kepada seseorang.

Memang, di balik ketegasannya dalam masalah prinsip, konsistennya dalam urusan kebaikan dan kebenaran, serta militansinya dalam perjuangan, terdapat sifat kasih sayang almarhum kepada makmum yang dipimpinnya.

Banyak di antara asatidz dan dewan imaamah yang ia bantu untuk urusan ibadah, seperti bantuan membangun rumah, pemberian uang untuk keperluan kuliah, hingga memberangkatkan haji dan umrah semasa aktif di kedinasan.

Penulis turut menyaksikan, betapa almarhum tidak segan-segan mengantar atau menjemput alumni pesantrennya yang akan kuliah atau baru tiba dari kuliah di luar negeri.

Penulis, juga beberapa rekan Penulis yang Penulis ketahui, seringkali mendapatkan kiriman bingkisan, titipan dari Imaam, kadang berupa nasi kotak, makanan ringan, buku, hingga berupa uang.

“Satu lagi yang selalu diperhatikan almarhum adalah program Tahfidz Al-Quran di pesantrennya,” papar Hanifah.

Maka, tidak heran jika di rumahnya di Muhajirun Lampung, berkumpul puluhan santri penghafal Al-Quran, yang hampir 24 jam mengumandangkan ayat-ayat Allah, firman-firman-Nya, Al-Quranul Karim.

Onny Firyanti, puteri bungsu almarhum, merasa paling terpukul dengan kepergian ayahandanya tercinta, gurunya, mentornya, sekaligus pembimbingnya.

“Papa jika bicara dan bertemu anak-anaknya selalu yang dibicarakan adalah bagaimana ajaran Islam dijalankan, kami anak-anak muslimatnya agar menutup aurat sebagai kewajiban, dan agar thaat pada perintah Allah dan Rasul-Nya,” ujar Onny, sapaan akrabnya.

Menurutnya, ayahnya jika mengirimkan pesan singkat melalui sms biasanya jam 3 pagi. Jika tidak membalas, nanti pagi ditelepon mengingatkan tidak shalat tahajud ya? paparnya.

Hal lainnya, dalam dua pekan terakhir ini sebelum wafatnya, hampir tiap hari ia ditelepon ayahnya soal pembangunan Masjid An-Nubuwwah, sebagai pusat peradaban dunia Islam.

“Papa selalu mengajak kami anak-anaknya ke jalan kebaikan,” paparnya mengenang.

Apalagi, tambahnya, kalau sudah bicara Palestina, Al-Aqsha, ayahnya paling antusias, bicara Al-Aqhsa, Rumah Sakit Indonesia di Gaza, dan kewajiban berjuang membebaskannya dari belenggu penjajahan Zionis Israel.

“Siapa lagi yang akan membebaskan Al-Aqsha kalau bukan kita umat Islam,” imbuhnya, menirukan pesan ayahnya sekaligus Imaam kaum muslimin.

Satu keinginan yang belum kesampaian dari ayahnya, yakni ingin berkunjung ke Gaza, untuk ikut meresmikan RS Indonesia di sana bersama MER-C.

Adapun di mata cucu-cucunya, sang opa begitu biasa disapa di tengah cucu-cucunya, kakeknya merupakan teladan bagi generasi muda.

“Opa orangnya kharismatik, selalu memotivasi untuk berbuat baik,” ujar Balqis Ra Aisyana (24), cucu pertama almarhum.

Menurutnya, kakeknya selalu mengingatkan soal shalat, mengaji dan menutup aurat.

Hal senada dirasakan cucu lainnya, Lulu Jannata (22), yang menyebutkan kakeknya sebagai sosok yang tegas dan sisiplin dalam segala hal.

“Kalau sudah punya mau, pokoknya harus, tapi itu kemauan yang manfaat,” katanya lagi.

Masih menurut Lulu, kakeknya, paling sering memberikan hadiah kepada cucu-cucunya buku-buku bacaan yang bermanfaat.

Mereka semua kini merasakan ada yang hilang dari kehidupannya, ada yang pergi dari lingkungannya, ada yang melayang dalam pelukannya.

Tapi bukan hilang ke mana-mana, melainkan kembali kepada sang penciptanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya, “Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian”. (Q.S. Ali Imran [3] : 185).

Itu bunyi ayat yang disampaikan oleh Ustadz K.H. Abul Hidayat Saerodjie, salah seorang sesepuh di Pesantren Al-Fatah, saat memberikan nasihat terakhir di pemakaman almarhum.

“Yang paling penting bagi kita anak cucunya, keluarganya, dan makmum semuanya, adalah meneruskan kebaikannya,” nasihat Ustadz K.H. Adzro’i Abdus Syukur, pada malam ta’ziyah di kediaman almarhum, Sabtu malam (13/12/2014).

Pada kesempatan ta’ziyah, menyabarkan keluarga armarhum yang ditinggalkannya, Penulis sempat menyampaikan In Memorian riwayat hidup amal kebaikan almarhum semasa hidupnya, guna mengenang segala kebaikannya serta meneruskannya dalam kehidupan nyata.

Meminta Maaf
 
Penulis merasakan saat-saat terakhir berjumpa almarhum Rabu lalu (10/12/2014) di ruang tamu kediamannya di Muhajirun, Lampung, dua hari menjelang wafatnya.

Saat itu, Penulis, almarhum Imaam Hamidy, dan isteri beliau Ummi Hanifah al-Hafidzah, di ruang tamu, sambil duduk tiduran, almarhum mengatakan,”Ustadz, Jazakallahu khaira, ustadz dan ikhwan-ikhwan sudah banyak membantu kami, Imaam banyak minta maaf,” ujar Imaam dengan suara lirih sambil tersenyum cerah.

Imaam M.Hamidy (alm). Dok Pribadi
Imaam M.Hamidy (alm). (Dok Pribadi Sumber)

 “Alhamdulillah….Imaam, kalau saya masih jauh, belum banyak bantu Imaam, kami yang seharusnya minta maaf,” kata Penulis lagi.

Sebelumnya, saat menelepon Amir Ukhuwah Pusat, Haji Abdul Malik alias Bustamin Utje, terkait kedatangan siswa-siswa Imtiaz Malaysia ke Al-Fatah Lampung, Imaam juga meminta maaf kepada Bustamin atas kurangnya koordinasi penyambutan tamu.

Setelah itu, masih sambil tiduran, Imaam menyampaikan beberapa hal untuk dicatat Penulis, yang kemudian Penulis ketik sampai empat halaman hvs, sebagai bahan musyawarah Dewan Imaamah yang direncanakan pada liburan akhir tahun 2014 mendatang.

Alhamdulillah notulen itu sudah Penulis sampaikan kepada Imaam Yakhsyalah Mansur, pelanjutnya, melalui Majelis Kutab Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah).

Imaampun berbicara mulai dari soal tanggung jawab muslimin menghadapi situasi dalam dan luar negeri, pembangunan Masjid An-Nubuwwah, kantor berita Islam MINA, Shuffah Al-Quran, dakwah ke Thailand, kerjasama Istambul, Kedutaan Turki, nasib Al-Aqsha, semakin kejamnya Zionis, perpustakaan multimedia, hingga film dokumenter Perang Khaibar.

Masih terdengar Penulis mencatat pesannya, “Jangan lupa juga, surat untuk Menteri Dalam Negeri Malaysia dan Surat Keputusan Wilayah Malaysia-Batam”.

Seolah Imaam hendak mengemukakan semua ide-idenya, cita-citanya, harapan-harapannya, dan semua niat amal sholehnya.

“Itu semua pekerjaan-pekerjaan besar, terutama Shuffah Al-Quran, yang dapat mempengaruhi kebaikan dunia, dan itu Khilafah,” ujar Imaam mengakhiri kalimatnya.

Almarhum melanjutkan, Al-Quran merupakan sumber hukum tertinggi, pedoman hidup manusia. Maka, Shuffah Al-Quran menjadi wajib untuk diwujudkan.

“Ekstremnya, majelis yang lain boleh tidak ada, tetapi Shuffah Al-Quran wajib ada,” pesannya.
Lalu, almarhum bangun, dan menyampaikan pamit mau ke belakang. Tangan beliau yang lembut Penulis cium, hangat, tenang, serta Penulis diizinkan untuk kembali ke Ciluengsi, Bogor, karena memang sudah diizinkan sebelumnya.

Penulis sampaikan pada Kamis siang mengisi tausiyah di Batu Tulis Bogor, Kamis malamnya mengisi pengajian karyawan di Pasar Kenari Cileungsi, dan Jumat sorenya Jadwal Bedah Berita MINA di Radio Silaturrahim Cibubur.

“Insya Allah selesai acara tersebut, kami segera kembali, Imaam,” izin Penulis.

Memang sebelumnya Penulis sepulang dari safari Dakwah Malaysia-Pattani, Thailand, dipanggil Imaam beberapa hari untuk menyampaikan laporan perjalanan. Penulis datang ke Muhajirun Ahad (8/12) sampai Rabu (11/12) pamitan.

Ya, Allah…. rupanya itulah pertemuan terakhir Penulis dengan Imaamul Muslimin Syaikh Muhyiddin Hamidy.

Begitu mendengar berita Jumat pagi ba’da shubuh Imaam dipanggil ke haribaan-Nya. Penulis dan Dewan Imaamah di Cileungsi, Bogor pun bergegas pagi itu juga terbang ke kampung Islam Internasional Muhajirun, menemui Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy, yang telah menjadi jenazah.

“Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’un….. Sesungguhnya kita semua milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya lah jua kita akan kembali”….

Penulis hanya dapat menyalatkan, mengantar ke pusaranya sebagai penghormatan  terakhir, dan mendoakannya, setelah sebelumnya Penulis sempat mencium wajahnya yang harum, bersih, bercahaya… Subhanallah.

“Selamat jalan wahai penghuni syurga, izinkan aku kelak bersamamu di syurga-Nya. Amin,” doa Penulis dalam hati.

Jenazah Imaam Muhyiddin Hamidy saat sebelum dimakamkan, disemayamkan di rumah duka, Muhajirun, Lampung, Jumat (12/12/2014). Dok Pribadi
Jenazah Imaam Muhyiddin Hamidy saat sebelum dimakamkan,
disemayamkan di rumah duka, Muhajirun, Lampung,
Jumat (12/12/2014). (Dok Pribadi Sumber)

 Saat Terakhir
 
Menurut keterangan isterinya, Ummi Hanifah, sepekan sebelum wafatnya, almarhum sempat menangis di kamar tidur, di hadapannya.

“Masya Allah, betapa beratnya urusan ummat yang harus Imaam tanggung, Shuffah Al-Quran, Masjid An-Nubuwwah, Kantor Berita Islam MINA, Tarbiyah Al-Fatah, urusan Haji Umrah ikhwan-ikhwan,…..”, ujar almarhum Imaam masih sambil menangis sendiri, menitikkan air mata, betapa tanggung jawabnya kelak di akhirat.

Adapun saat-saat terakhir menjelang wafatnya penggagas satu rumah satu hafidz itu, seperti menurut keterangan keluarga almarhum dan ikhwan yang sempat menemani almarhum sebelum wafatnya, almarhum merasakan sakit di dada sebelah kiri pada Kamis siang menjelang Dzuhur (11/12/2014).

Tatang Syahria (47 th) dan Mukhsin AR (67 th), staf pembantu rumah tangganya dipanggil menemuinya di kamar.

Tatang menawarkan Imaam untuk berobat di Rumah Sakit Medistra di Jakarta saja, yang selama ini biasa menangani sakit beliau, dengan para dokter spesialis yang biasa menangani almarhum semasa hidupnya.

“Iya Tang, tapi Imaam masih ingin di Muhajirun,” ucap Imaam saat itu, seperti dituturkan Tatang.

Jalan keluarnya, sore itu pula Tatang minta bantuan seorang paramedis Iin Mutmainnah (isterinya Nur Ikhwan Abadi, relawan RS Indonesia di Gaza), segera diantar ke dokter spesialis jantung di Pahoman, Bandar Lampung, ditemani Akmalul Iman sebagai sopir dan Ummi Hanifah, isterinya. Di belakang mengawal mobil ukhuwah, terdiri dari Nurul (sopir), Ismail, Harun dan Mukhsin.

Setelah diperiksa dan mendapatkan perawatan medis, kondisinya agak membaik, dan almarhum  beserta ikhwan lainnya kembali ke rumah Muhajirun.

Di sepanjang perjalanan, biasa saja, duduk dengan tenang, bahkan masih bicara lancar, mengajak ke rumah makan karena semua memang belum pada makan, dan beliau yang bayar.

Sampai di rumah sekitar pukul 22.00 malam, shalat Maghrib dan Isya jama’ ta’khir.

“Sepertinya beliau nggak tidur sejak saya beranjak tidur sekitar jam 00.30,” ujar kesaksian Ummi Hanifah, isterinya.

Masih menurutnya, almarhum bahkan yang membangunkan dirinya sekitar jam 03.00 dini hari, mengingatkannya untuk shalat tahajud.

Saat itu, almarhum sudah shalat tahajud sambil duduk di kursi. Almarhum masih dapat berjalan kecil untuk berwudhu dengan air zam-zam, seperti kebiasannya.

“Saya rasakan masih ada bekas air wudhunya, menempel pada kain ihram di bawah kursi, yang biasa beliau gunakan untuk mengelapnya,” tutur Hanifah.

Menurut isterinya, Ummi Hanifah, alhafidzah 30 juz Al-Quran, kebiasaan Imaam memang tidak pernah meninggalkan shalat tahajud tiap malam.

Selang beberapa menit setelah shalat tahajud, Imaam terdengar lirih merintih pelan sambil memegang dadanya.

Segera dipanggilkan Mukhsin yang sedang ukhuwah jaga di ruang tengah. Setelah masuk ke kamar, dipanggil juga Tahsya, anak tahfidz muslimah Al-Quran yang tinggal di kamar belakang.

Setelah dipijit-pijit, mulai agak mendingan, tapi tidak ada komunikasi apapun.

Hanya terucap pelan kalimah Imaam, “Allah, ya Allah astaghfirullah, ampunilah aku, ampunilah aku, ampunilah aku…”, tiga kali terdengar, kata Mukhsin.

Setelah itu, agak tenang mendingan. Mukhsin izin ke isteri Imaam, mau shalat witir dulu di ruang tengah, menjelang shubuh.

Sekitar pukul 04.00 WIB, Hanifah memanggil Tatang, untuk segera ke kamar karena Imaam merasakan sakit lagi. Bergegas tatang masuk ke kamar, sedangkan Mukhsin menyususl lagi seusai shalat witir
.
Saat adzan Shubuh berkumandang, pukul 04.15 WIB, kondisi almarhum sudah tidak ada respon bicara, tapi nadi di leher dipegang masih ada denyut, tapi sangat pelan, sangat lemah, sangat lemah.

Mukhsin meminta isteri almarhum yang memang hafidz Al-Quran, untuk menalqinkannya dengan kalimah “Laa ilaaha illallaah,… Laa ilaaha illallaah,…”.

Menurut keterangan Mukhsin, sempat terdengar seperti jawaban dehem atau batuk kecil dua kali.

Bergegas, Tatang, Mukhsin dan ikhwan yang menjaga segera mengantar mengangkat almarhum ke dalam mobil untuk segera dibawa ke Rumah Sakit Natar Medika, sekiar 4 km dari kompleks Pesantren.

Tatang, yang puluhan tahun ikut bersama almarhum Imaam Hamidy ke manapun almarhum pergi, mulai tak kuasa menahan tangis, tetesan air mata mulai mengalir di wajahnya,… sambil memeluk dan membopongnya, dibantu Mukhsin lainnya yang kemudian datang untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.

Sesampai di Rumah sakit Natar Medika, sekitar 4 km dari kediaman almarhum, menurut dokter jaga, almarhum sudah tidak ada, sudah meninggal, kemungkinan di kediaman.

Kepergiannya terasa begitu tiba-tiba. Sakitnya memang sudah lama, beberapa kali masuk rumah sakit. Tapi rupanya almarhum, seperti kebanyakan orang tua, tidak mau merepotkan orang lain.

Isterinya dan ikhwan-ikhwan yang ada di situpun menangis sesenggukan….. Mukhsin, abah Tatang paling keras tangisannya, memeluk erat janazah almarhum…… Imaam…. Imaam….

“Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’un….. Sesungguhnya kita semua milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya lah jua kita akan kembali”….

Menyusul ke rumah sakit, setelah shalat Shubuh, Ustadz Yakhsyallah Mansur usai mengimami shalat Shubuh di Masjid at-Taqwa Kompleks Pesantren Al-Fatah Muhajirun. Setelah sebelumnya meminta jamaah shalat Shubuh mendoakan almarhum. Ia ditemani Waliyul Imaam Lampung, Ir. Novirzal dan Ir. Wahyu Iwa Sumantri.

Husnul Khatimah
 
“Sepekan menjelang wafatnya, Imaam selalu ramah, banyak minta maaf, bahkan berhumor dengan ikhwan-ikhwan,” ujar Ummi Hanifah al-Hafidzah isteri beliau.

Firasat itu sebenarnya sudah dirasakan oleh Ummi Hanifah, saat Kamis malam itu almarhum banyak mengeluarkan keringat.

“Kalau keluar keringat begini seperti Rasulullah, berarti sudah dekat,” ujar Imaam kala itu.

Kini firasat itu baru terasa menjadi kenyataan setelah terjadi. Termasuk Penulis, biasanya kalau Imaam memberikan perintah notulen, seperti Rabu dua hari menjelang wafatnya, kadang sehari sampai 2-3 kali Imaam menelepon atau sms menanyakan sudah selesai belum? Penulis sendiri mau telepon atau sms, khawatir mengganggu juga, barangkali sedang istirahat karena sakit.

Akhirnya, memang almarhum sedang istirahat, bahkan kini istirahat selama-lamanya, meninggalkan semuanya, meninggalkan keluarganya, meningalkan ikhwan akhwatnya, untuk menemui Tuhannya. Dan ia, seperti kebiasaan orang-orang tua terdahulu, tidak mau merepotkan pada ujung usianya….

Teringat kan firman Allah, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan puas lagi diridhai-Nya, Masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku”. (Q.S. Al-Balad ayat 27-30).

Kita semua keluarga, makmum dan kaum muslimin merasa kehilangan pemimpin umat, kehilangan orang tua, kehilangan penasihat utama.

Ia menemui Tuhannya pada hari terbaik Jumat pagi, pada waktu terbaik setelah shalat tahajud mengirirngi adzan Shubuh, dengan keringat mengantarkan kepergiannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di dalam dalam hadits riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhu, yang artinya, “Tidak ada seorang muslim yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.”

Pada hadits lain dinyatakan, yang maknanya, “Seorang mukmin apabila meninggal dunia, maka mengeluarkan keringat dari keningnya”.  (H.R. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dari Buraidah bin Khusaib Radhiyallahu ‘Anhu).

Apalagi almarhum kemudian dishalatkan di masjid oleh ribuan kaum muslimin dan muslimat, oleh santriwan-santriwati, oleh para umara dan ulama, oleh kaum fuqara dan dhu’afa, serta oleh para penghafal Al-Quran. Subhanallaah.

Ustadz Yakhsyallah Mansur, yang kemudian hari itu juga dibai’at sebagai Imaamul Muslimin, memimpin prosesi pemakaman almarhum, setelah sebelumnya dimandikan, dikafankan dan dishalatkan oleh ribuan jamaah yang hadir.

“Badan almarhum saat dimandikan sangat bersih, tidak ada sedikitpun bekas jatuh,” ujarnya, yang ikut memandikan jenazah.

Mengantar ke pemakaman terakhir alm Imaam Muhyiddin Hamidy, Jumat (12/12/2014). (Dok Pribadi)
Mengantar ke pemakaman terakhir alm
Imaam Muhyiddin Hamidy, Jumat (12/12/2014).
(Dok Pribadi Sumber)

 Seorang makmum nun jauh dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, Ardansyah mengirimkan pesan duka melalui pesan singkat kepada Penulis, Sabtu (13/12/2014), pukul 15.02 WIB. Isinya, “Hari kemarin dan hari ini terasa sangat berat, separuh jiwaku terasa hilang bersamaan dengan hilangnya Imaamul Muslimin tercinta. Wajah pucat dan muram masih berselimut di wajahku. Namun, itu takkan membuatmu kembali ke hadapanku.

Aku rindu padamu, aku rindu mencium tanganmu, aku rindu cambukan nasihatmu, aku rindu pelukan hangatmu. Aku tak percaya hal ini benar-benar terjadi. Kini aku benar-benar kehilangan dirimu.

Namun aku berharap ini hanya sementara, semoga Allah mengumpulkan aku bersama dirimu wahai Imaamku, mujahid ikhlasku, pejuang kesatuan ummatku. Aku ingin kelak bertemu di syurga-Nya, denganmu Wahai Imaam yang kubanggakan.

Wahai Imaam, maafkan diriku, aku tak sempat memberimu kebahagiaan menjadi kader yang baik dan belum mengharumkan nama Jama’ah Muslimin. Aku masih menjadi kader biasa-biasa saja. Bahkan masih jauh dari kata bermanfaat bagi ummat.

Ya Allah ya Rabb, untuk itu bantulah hamba-Mu ini agar bisa mengikuti jejak Nabi, para sahabat dan Imaam tercinta almarhum. Amin.

Sumber : Mi'raj Islamic News Agency (MINA) | Al-Fatah 
Share:

Minggu, 01 Januari 2017

PRESS RELEASE DPP FMI : Mengenai adanya UPAYA KRIMINALISASI Tokoh GNPF MUI


PRESS RELEASE Mengenai adanya UPAYA KRIMINALISASI Tokoh GNPF MUI


Sehubungan dengan munculnya pelaporan yang ditujukan Imam Besar Front Pembela Islam Habib Muhammad Rizieq bin Husein Shihab, Lc., MA., DPMSS. yang dilakukan oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan beberapa kelompok pemuda lainnya yang mengaku mahasiswa atas tuduhan penistaan agama yang menurut kami mengada-ada, kami melihat terdapat pola yang dijabarkan sebagai berikut:

1. Bahwa pelaporan yang dilakukan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia, menuduh Habib Rizieq melakukan penistaan agama, yang kemudian diikuti oleh pelaporan-pelaporan sejenis yang mengatasnamakan mahasiswa pula, memperlihat sebuah gerakan yang telah TERKOORDINASI;

2. Bahwa pelaporan terhadap Imam Besar FPI Habib Muhammad Rizieq Shihab yang juga merupakan Ketua Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa/GNPF MUI, bersamaan dengan kasus pemberian bantuan kemanusian kepada Suriah yang dihadapi Ketua GNPF MUI, KH Bachtiar Nasir, begitu juga pemanggilan yang ditujukan kepada koordinator peserta aksi 212 (dua Desember) 2016 dari Sumatera Barat, menunjukan adanya UPAYA YANG TERSTRUKTUR DAN SISTEMATIS mengkriminalkan eksponen GNPF MUI;

3. Bahwa dari penjelasan diatas, kami meyakini terdapat AKTOR INTELEKTUAL yang berupaya secara terstruktur dan sistematis, sengaja menciptakan permasalahan-permasalahan, untuk membungkam perlawanan umat Islam atas ketidak-adilan dan menginginkan perpecahan antar anak Bangsa;

4. Bahwa Kami melihat AKTOR INTELEKTUAL tersebut adalah dari kalangan komprador dan para pemilik kapital yang serakah terhadap berbagai proyek pembangunan, yang merupakan perpanjangan tangan dari asing dan aseng dalam menjalankan agenda Proxy War, yang berhasil menyusup kedalam kekuasaan negara.

Karena itu kami, DEWAN PIMPINAN PUSAT FRONT MAHASISWA ISLAM menyerukan:

1. Kepada umat Islam khususnya aktivis mahasiswa Islam dari Sabang sampai Merauke untuk menyatukan barisan, tetap menjaga #Spirit212 yang merupakan spirit membela agama Islam untuk terus melakukan perlawanan terhadap kedzaliman dan ikut membela ulama pewaris Nabi Muhammad SAW dari segala bentuk pembungkaman;

2. Kepada umat Islam khususnya aktivis mahasiswa Islam dari Sabang sampai Merauke untuk menyatukan barisan, menjaga keutuhan Bangsa Indonesia dari segala macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang merongrong Persatuan dan Kesatuan Bangsa karena menginginkan perpecahan antar anak Bangsa;

3. Kepada pemegang kuasa, untuk menghentikan politik adu domba dan berhenti menjadi komprador asing dan aseng serta menghentikan segala perbuatan yang memusuhi ajaran islam dan umat islam, karena hidup anda hanya sebentar di dunia ini;

4. Kepada seluruh elemen Bangsa Indonesia untuk selalu menjaga keharmonisan hubungan antar agama dengan membuka pintu DIALOG agar mengikis kesalah-pahaman antar umat beragama dengan tetap menjaga hak konstitusional untuk menjalankan ajaran agamanya secara penuh, kami siap melakukan dialog.

Jakarta, 3 Rabi'ul Akhir 1438 H / 1 Januari 2017 M

DEWAN PIMPINAN PUSAT FRONT MAHASISWA ISLAM

KETUA UMUM SH  Ali Alatas,  SEKRETARIS UMUM Syafiq Ridho Alaydrus, SH



Share:

MUI mengimbau umat Islam agar lebih bersatu lagi di tahun 2017

Puluhan ribu umat Islam mengikuti acara Dzikir Nasional 2016 yang diselenggarakan Republika di Masjid At-Tin, Jakarta pada Sabtu (31/12). Mereka mendengarkan tausiah, berdzikir, dan bermuhasabah dalam rangka menyambut pergantian tahun.
Dalam kesempatan tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam agar lebih bersatu lagi di tahun 2017. "Umat Islam harus bersatu, umat Islam harus bangkit dalam segala hal," kata Ketua Umum MUI, KH Ma'ruf Amin di Masjid At-Tin.

Ia menegaskan, umat Islam kedepannya harus semakin bangkit untuk menyiapkan sumber daya manusia. Sebab, umat Islam tidak mungkin tidak berkompetisi.

Dikatakan dia, saat umat Islam kalah. Artinya, umat Islam tidak menyiapkan diri dengan baik. Maka umat Islam tidak boleh menyalahkan siapa pun.

"Oleh karena itu umat Islam harus menyiapkan diri, menyiapkan ekonomi, pendidikan dan menyiapkan diri menghadapi gempuran sosial budaya yang destruktif," jelasnya.

Share:

Social

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Arsip Blog

Theme Support