• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label sejarah indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Januari 2017

Utang Nyawa Sukarno kepada Tentara Islam Pakistan

Utang Nyawa Sukarno kepada Tentara Islam Pakistan

Oleh: Selamat Ginting Jurnalis Senior Republika

Presiden Sukarno pernah mengambil sikap hitam putih terhadap ketegangan India dan Pakistan. Bukan sikap abu-abu. Sukarno jelas-jelas mendukung Pakistan dibandingkan mendukung India saat perang kedua negara pada 1965 lalu.
“Utang nyawa dan solidaritas Muslim!” Begitu kira-kira alasan Bung Karno untuk mendukung Pakistan dibandingkan mendukung India.

Seorang intelektual keturunan Pakistan di Indonesia, Azam Khan, dalam bukunya ‘Peranan Pakistan dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia’, menuturkan tentang kedekatan batin antara orang Pakistan dengan Indonesia saat terjadinya agresi militer yang dilakukan tentara Inggris yang bergabung dengan Belanda di bawah NICA, pada 1946-1948. 
Bahkan saat itu, Presiden Sukarno nyaris terbunuh.

Sukarno dikepung serdadu NICA dalam suatu insiden yang sangat serius. Saat itu, Bung Karno hendak berkunjung ke rumah dokter R Soeharto di Jalan Kramat 128, Jakarta. Tiba-tiba serdadu-serdadu NICA mengurungnya. Si bung tidak dapat keluar dari mobil untuk masuk ke halaman rumah sahabatnya itu.
Melihat hal tersebut, dokter Soeharto menghubungi Tabib Sher di Senen Raya.

Pada saat itu di rumah Tabib Sher sedang berkumpul beberapa orang serdadu Pakistan. Seketika pasukan Pakistan segera meluncur dan memerintahkan tentara NICA agar menyingkir. 
Kedua serdadu sudah dalam posisi ‘steeling’ dan mengokang senjata. Posisi tentara India Muslim itu lebih menguntungkan, karena mengepung pasukan NICA dari India non-Muslim. Pasukan India non-Muslim itu pun akhirnya keluar dari rumah dokter Soeharto. Nyawa Sukarno yang sudah di ujung tanduk itu, terselamatkan.

Bukan cuma Sukarno yang berutang budi. Bangsa ini juga berutang budi pada India Muslim yang kemudian mendirikan negara dengan nama Pakistan. Pada 1946-1948 itu, banyak disersi yang dilakukan tentara Pakistan yang dibawa oleh Inggris ke Indonesia. Utamanya untuk membantu melanggengkan penjajahan Belanda di Indonesia. 
Saat itu jumlah tentara Pakistan sekitar 600 serdadu yang bergabung dalam pasukan Sekutu.

Mereka membelot dan memihak pada pejuang kemerdekaan Indonesia. Dengan gigih, ikhlas atau atas panggilan kesamaan agama Islam, akhirnya bahu-membahu dengan pasukan Republik berjuang melawan kaum penjajah. 
Mereka turut bertempur antara lain di Surabaya, Medan, Bandung, Bukit Tinggi dan kota-kota lain. Pertempuran di kota-kota tersebut banyak menimbulkan korban dari pihak Belanda.

Pasukan Pakistan yang membelot ke tentara Indonesia membawa segala peralatan perang, mulai dari mesiu, sejumlah mobil jeep, truk sampai bahan kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian dan lain-lain. 
Tentara Inggris yang dibawa ke Indonesia untuk membantu Belanda terdiri dari pasukan tentara Ghurka India yang beragama Sikh, tentara Hindu India dan tentara Pakistan (Islam India).

Namun yang membelot dari tentara Inggris dan bergabung dengan tentara Indonesia hanyalah serdadu muslim dari Pakistan dan bersama-sama tentara Indonesia berjuang melawan tentara Belanda dan Inggris. 
Sedangkan tentara India yang beragama Hindu dan pasukan Gurkha yang beragama Sikh tetap bersama pasukan Belanda dan Inggris melawan pasukan Indonesia dan Pakistan.

Rupanya imbauan para pemimpin Indonesia saat itu, mampu mengetuk hati Quaid- e- Azam, Mochamad Ali Jinnah. Ia merupakan Presiden pertama Pakistan yang menyampaikan protes atas kekejaman kolonial Belanda dan Inggris terhadap Indonesia. Ia mengimbau seluruh umat Islam dunia untuk membantu perjuangan kemerdekaan RI.

Atas jasanya yang luar biasa, pada Desember 1996, Presiden Soeharto memberikan Bintang Adi Purna, bintang RI kelas satu kepada almarhum Mochamad Ali Jinnah. Ia dianggap luar biasa berjasa terhadap negara dan bangsa Indonesia. 
Jasa lain dari Ali Jinnah adalah mengeluarkan perintah menahan sejumlah pesawat Belanda dan Inggris. Pesawat itu bermuatan senjata yang akan dibawa ke Jakarta, akhir 1947.

Persenjataan ini untuk mendukung kegiatan agresi Police Action. Police Action adalah tindakan agresi yang dilakukan tentara sekutu Inggris membantu tentara Belanda untuk kembali menjajah Indonesia yang telah merdeka. 

Dalam perang India melawan Pakistan pada 1965, Presiden Sukarno mengirimkan kekuatan armada Angkatan Laut Indonesia untuk membantu Pakistan melawan India yang lebih kuat dalam persenjataannya.

Mengetahui Indonesia mengirimkan dua kapal selam dan patrol kapal perang di selatan Pakistan, India kecewa dan berpikir ulang untuk berkonfrontasi dengan Pakistan. 
Sebab kekuatan militer Indonesia saat itu termasuk yang diperhitungkan dunia. Belanda saja takut dan hengkang dari Irian Barat, apalagi India. Begitulah kira-kira konstalasi kekuatan militer dunia era tersebut.

Sebenarnya bukan semata-mata membela Pakistan, tetapi Sukarno juga sedang menggertak India yang memiliki perbatasan laut dengan Indonesia. India takut, Pulau Nicobar yang memiliki batas maritim dengan landas kontinen yang terletak pada titik-titik koordinat tertentu di kawasan perairan Samudera Hindia dan Laut Andaman, akan dicaplok Indonesia.

Sikap Sukarno tersebut sangat membekas dan membuat sakit hati pendiri negara India, Jawaharlal Nehru . Padahal, Pesiden Sukarno bersama Josep Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), U Nu (Birma), Mochamad Ali Jinnah (Pakistan), dan Nehru (India) adalah tokoh-tokoh besar di balik Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, pada 1955. KAA merupakan cikal bakal Gerakan Non Blok (GNB), penentang Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet.

Maka tidak heran ketika pada 2011 melakukan liputan ke India, penulis sama sekali tidak melihat nama jalan Sukarno di Negeri Nehru tersebut. Berbeda dengan di Pakistan yang begitu menghormati Bung Karno. Ada dua tempat di Pakistan yang dinamai Soekarno Square Khyber Bazar di Peshawar, dan Soekarno Bazar, di Lahore. Penamaan ini tidak lepas dari sepak terjang kedua negara.

Begitu juga di museum-museum India, nyaris foto Presiden Sukarno hanya berupa foto-foto kecil berukuran 5x 10 cm. Seperti dilupakan begitu saja peran Indonesia untuk India. 
Indonesia sebenarnya bukan tidak pernah membantu India. Bahkan dalam kondisi di kepung Belanda, pada 1946, Indonesia melakukan diplomasi beras. Mengirimkan 500 ton beras untuk membantu India, negeri dengan mayoritas penduduk beragama Hindu. Padahal saat itu Indonesia juga sedang krisis ekonomi yang parah.

India pun membalas jasa Indonesia dengan cara mengusir kapal-kapal Belanda di pelabuhan India. Kapal-kapal itu diketahui membawa tentara Belanda yang akan menyerang Indonesia.

Kini kedua negara, India dan Pakistan sedang bersitegang. Pada Januari 2017, salah satu yang menjadi pusat perhatian wartawan dan pengamat yang konsentrasi dalam masalah pertahanan adalah gebrakan militer Pakistan. Negara Islam terbesar di kawasan Asia Selatan.

Negeri yang bertetangga sekaligus berseteru dengan India itu, Senin (9/1/2017), melakukan uji coba pertama penembakan rudal penjelajah yang bisa ditembakkan dari kapal selam.
"Babur-3 adalah varian dari rudal penjelajah Babur-2 yang diluncurkan di darat, yang sukses diuji coba pada Desember 2016 lalu," demikian pernyataan militer Pakistan, pekan lalu.

Rudal penjelajah ditembakkan dari sebuah platform yang bergerak di bawah permukaan air dan mampu menembak sasaran dengan tepat. Juru bicara Markas Besar Angkatan Bersenjata Pakistan mengatakan, rudal itu mampu membawa hulu ledak nuklir dengan jarak maksimal 450 kilometer.
Pakistan dan India kerap melakukan psywar dengan cara melakukan uji coba rudal sejak kedua negara memiliki senjata nuklir pada 1998. Kedua negara yang dahulu menyatu dalam koloni Inggris, mampu meluncurkan rudal balistik dengan mengangkut hulu ledak nuklir atau hulu ledak konvensional.
Tak bisa dibantah, hubungan kedua negara dalam posisi siap perang. Tegang!
Jangan lupa, kedua negara sudah tiga kali berperang sejak 1947. September 2016 lalu, terjadi insiden serangan terhadap pangkalan militer India di Kashmir. India menuding, serangan dilakukan kelompok militan Jaish-e-Mohammed yang berbasis di Pakistan.

Di mana posisi Indonesia saat ini menghadapi situasi tersebut, apakah akan menjadi penonton saja atau punya kepiawaian diplomasi?

Sayang tidak ada lagi pemimpin sekelas Sukarno-Nehru-Jinnah yang menjadi wakil Indonesia, India, dan Pakistan sebagai pendiri Gerakan Non Blok yang berwibawa.

Sumber: Republika.co.id
Share:

Kamis, 22 Desember 2016

Kepeloporan Pendidikan Islam di Jakarta

Alwi Alatas
(Kandidat Doktor Sejarah di International Islamic University Malaysia/ Guru Pesantren Shoul Lin al-Islami Depok)
Pendidikan merupakan sarana penting untuk mendorong terjadinya perubahan positif yang signifikan di tengah masyarakat. Tapi, bisa juga, pendidikan membawa perubahan negatif, jika sistem pendidikan yang dikembangkan bermasalah. Beda dengan revolusi yang menghasilkan perubahan cepat, meski seringkali menimbulkan luka yang dalam, pendidikan membawa perubahan yang perlahan dan gradual. Tetapi, dampak pendidikan lebih berkesan dan panjang. Karena itu orang-orang yang berpandangan jauh dan menghendaki perubahan biasanya menjadikan pendidikan sebagai medium utama dalam mewujudkan gagasan mereka.

Dalam sejarah peradaban Islam, pendidikan telah lama menjadi bagian penting dan terus berkembang seiring dengan laju perubahan jaman. Pada esensinya pendidikan adalah proses transmisi adab dan ilmu dari orang-orang yang alim kepada para penuntut ilmu. Hal yang sama berlaku juga pada masyarakat Muslim di Indonesia. Walaupun catatan sejarah awal Nusantara agak minim, tetapi dapat dipahami bahwa sejarah Islam di wilayah ini tidak sepi dari aktivitas menuntut ilmu. Itu bisa dilihat dari berbagai aktivitas keilmuan melalui para ulama luar yang datang ke wilayah ini ataupun ulama-ulama lokal yang menuntut ilmu ke negeri-negeri Timur Tengah, yang kemudian kembali untuk menyebarkan ilmunya di Nusantara.
Aktivitas keilmuan ini kemudian berkembang dalam bentuk pesantren. Inilah lembaga pendidikan Islam yang dipimpin oleh seorang Kyai dan sejumlah tenaga pengajar. Walaupun sudah bersifat kelembagaan, tradisi keilmuannya tetap berpusat pada otoritas guru dan ulama.
Namun perkembangan Islam di Indonesia mendapat tantangan dengan masuknya kekuatan kolonial Belanda sejak abad ke-16 yang cengkeramannya semakin lama semakin kuat. Pada awalnya pemerintah kolonial Belanda tidak mengurus soal pendidikan masyarakat pribumi. Namun pada pertengahan abad ke-19, seiring dengan semakin jauhnya pemerintah kolonial masuk dan mengatur secara langsung birokrasi pribumi, pemerintah memutuskan untuk membuka sekolah-sekolah untuk kaum elit pribumi.
Sekolah-sekolah ini, sebagaimana disebutkan oleh Bernard Vlekke di dalam bukunya Nusantara, terus bertambah sehingga pada tahun 1903 jumlahnya menjadi 1.700 buah, pada tahun 1913 menjadi 7.000 buah, separuh dari jumlah yang terakhir ini merupakan sekolah desa, dan angka ini masih terus membesar. Pendidikan yang diberikan oleh sekolah-sekolah kolonial ini tentu saja bersifat sekular. Agama boleh dikatakan tidak mendapat tempat di dalamnya, atau disisipkan dalam bentuk yang sudah terdistorsi. Selain sekolah pemerintah, ada pula sekolah-sekolah zending yang memiliki unsur keagamaan lebih besar, tetapi muatan yang diberikan di dalamnya adalah agama Kristen.
Pada akhir era kolonial, pendidikan Belanda yang bersifat sekular semakin bisa dinikmati oleh masyarakat pribumi yang lebih luas, walaupun jumlah pelajarnya tetap sangat kecil dibandingkan keseluruhan penduduk yang ada. Menurut M.C. Rickleffs dalam A History of Modern Indonesia, orang Indonesia yang mengenyam sekolah dasar pada tahun 1930 hanya sebesar 2.8%. Sementara tingkat literasi pada tahun yang sama adalah 7.4%, yang artinya pendidikan lokal, khususnya pesantren, masih memberikan sumbangan lebih besar bagi penghapusan buta huruf.
Di antara tokoh yang mendukung diberikannya pendidikan kolonial bagi masyarakat pribumi adalah Snouck Hurgronje. Bagi Hurgronje, pendidikan sekuler bagi kaum elit pribumi adalah sebuah cara untuk mencapai apa yang disebutnya sebagai ‘asosiasi’ atau “suatu kesatuan kultural di antara rakyat Ratu Belanda”, terlepas dari perbedaan agama yang mereka miliki. Dengan kata lain, ia memimpikan lahirnya masyarakat pribumi yang memiliki kultur yang sama dengan masyarakat Belanda serta memiliki loyalitas kepada Ratu Belanda, walaupun mereka mungkin tetap beragama Islam.
Visi Hurgronje memang tidak sepenuhnya terwujud, karena para elit pribumi yang dihasilkan oleh pendidikan sekuler kolonial, bersama-sama dengan para alumni pesantren, akhirnya justru menggunakan pengetahuan mereka untuk mengusir penjajah dan memerdekakan Indonesia. Tetapi sekolah-sekolah sekuler kolonial berhasil menciptakan diskrepansi budaya antara kaum sekuler pribumi ini dengan rekan-rekan santri mereka.
Mark Woodward menjelaskan di dalam Java, Indonesia and Islam bahwa sebelum era Politik Etis kaum elit priyayi masih mengirimkan putera-putera mereka ke pesantren, selain memberikan pendidikan sastra tradisional di sekolah kerajaan. Namun, belakangan anak-anak priyayi ini tinggal bersama keluarga-keluarga Belanda untuk mengenyam pendidikan sekuler dan tidak lagi menerima pendidikan di pesantren. Dampaknya, Woodward mengutip pengamatan Ahmad Djajadiningrat, “banyak Kyai pada periode ini sangat curiga terhadap kaum elit priyayi karena kedekatan hubungan mereka dengan pemerintah kolonial, yang mereka anggap dilarang oleh hukum Islam.” Dan sebaliknya, “walaupun sebagian besar priyayi menganggap dirinya Muslim, banyak di antaranya yang tidak pernah menerima dasar-dasar pendidikan Islam sedikitpun.” Sebagian priyayi ini mengakui bahwa mereka “secara aktif telah dikecilkan hatinya, kalau tidak justru dilarang, dari menghadiri aktivitas-aktivitas di masjid.”

Kepeloporan Jamiat Kheir
Kaum santri enggan mengirim anak-anak mereka belajar ke sekolah model kolonial, karena menjauhkan Muslim pribumi dari agamanya. Di antara mereka, ada orang-orang keturunan Hadrami di Indonesia. Mereka sejak lama telah datang ke Nusantara untuk berdakwah dan berdagang dan jumlah mereka yang datang ke Indonesia semakin meningkat pada paruh terakhir abad ke-19. Mereka mewakili mayoritas keturunan Arab di Indonesia dan merupakan komunitas migran terbesar kedua di Indonesia setelah orang-orang keturunan Cina.

Dalam buku Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara karya L.W.C. van den Berg disebutkan bahwa orang-orang Hadrami ini kebanyakannya bisa membaca lewat pendidikan yang diberikan di rumah. Mereka tidak suka mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah pemerintah atau sekolah zending karena khawatir anak-anak ini akan terpengaruh agama Kristen.

Pada akhir abad ke-19, beberapa pemuka Hadrami di Indonesia menerima ide-ide pembaruan Islam dari Timur Tengah, dan juga ide Pan-Islamisme, serta menyebarkan gagasan itu di Indonesia. Mereka kemudian mendirikan perkumpulan modern Islam pertama di Indonesia, yaitu “Jam’iyyat Khair” (kini Jamiat Kheir) pada tahun 1901 di Batavia, hanya satu tahun setelah orang-orang keturunan Cina mendirikan perkumpulan modern serupa. Bagaimanapun, Jam’iyyat Khair memiliki keunggulan karena asas Islam-nya membuatnya terhubung dengan masyarakat pribumi. Perkumpulan ini baru mendapat status resmi dari pemerintah Hindia Belanda pada pertengahan tahun 1905.
Pada tahun 1906, Jam’iyyat Khair mendirikan sekolah modern Islam yang pertama di Indonesia, berlokasi di Pekojan, Batavia. Sekolah ini kemudian diikuti oleh beberapa cabang serta sekolah-sekolah sejenis di beberapa kota lainnya. Sekolah-sekolah ini menggabungkan kurikulum agama dan sekuler, dalam arti pelajaran Matematika, Sejarah, dan Bahasa Inggris diberikan di samping pelajaran agama Islam. Fitur-fitur yang menonjol dari sekolah modern ini mungkin akan dikritisi sebagai hal-hal yang kurang esensial, seperti pembelajaran di kelas dengan sistem penjenjangan siswa, serta digunakannya meja-kursi dan buku teks modern yang mengandung ilustrasi. Namun seperti ditulis Natalie Mobini-Kesheh di dalam The Hadrami Awakening, “filosofi yang mendasari sekolah-sekolah ini menekankan pada pentingnya pemahaman.” Diskusi-diskusi informal juga biasa diadakan di sekolah-sekolah ini untuk membicarakan situasi kaum Muslimin yang perlu diperbaiki.
Jam’iyyat Khair dan sekolah-sekolah semisalnya telah memainkan peranan sebagai motor kebangkitan (nahdhah) masyarakat Hadrami di Indonesia. Tetapi bukan hanya bagi orang-orang Hadrami, unsur Islam di belakang ide-ide ini juga pada gilirannya telah memantik gairah kebangkitan yang sama di tengah masyarakat Muslim di Indonesia pada umumnya. Walaupun Jam’iyyat Khair lebih dikenal sebagai organisasi keturunan Arab, sejak tahun 1906 anggaran dasarnya membuka peluang bagi kalangan lain yang beragama Islam. Beberapa tokoh nasional ada yang menjadi anggota Jam’iyyat Khair, di antaranya KH. Ahmad Dahlan, HOS. Tjokroaminoto, serta Hasan Djajadiningrat. Begitu pula sekolah Jam’iyyat Khair menerima murid-murid bukan hanya dari kalangan Hadrami tetapi juga dari kalangan Muslimin pada umumnya.
Ide-ide pembaruan pendidikan Islam yang dimulai oleh Jam’iyyat Khair ini kemudian diteruskan antara lain oleh KH. Ahmad Dahlan melalui organisasi Muhammadiyah yang didirikannya pada tahun 1912. Sejak saat itu, Muhammadiyah mendirikan banyak sekolah-sekolah Islam modern di Indonesia. Keberadaan sekolah-sekolah ini diharapkan dapat mencegah atau mengurangi terjadinya kristenisasi – atau de-Islamisasi – lewat dunia pendidikan, karena kini masyarakat Muslim pribumi tidak perlu masuk sekolah-sekolah pemerintah atau zending untuk mendapatkan pelajaran-pelajaran umum.
Guru internasional
Di antara hal menarik dari Jam’iyyat Khair adalah keseriusannya dalam menghadirkan guru-guru berkualitas, bahkan yang berskala internasional. Pada tahun 1907, menurut Deliar Noer dalam bukunya, Gerakan Modern Islam, seorang guru dari Padang bernama Haji Muhammad Mansur dibawa ke Jakarta untuk mengajar di Jam’iyyat Khair. Pada tahun 1911, beberapa orang guru sekaligus ulama dari Timur Tengah didatangkan ke Indonesia untuk memimpin cabang-cabang sekolah ini. Mereka adalah Ahmad Soorkatti dari Sudan, Muhammad Thaib dari Maroko, dan Muhammad Abdul Hamid dari Makkah. Begitu pula pada tahun yang sama didatangkan seorang guru yang lain, yaitu Muhammad al-Hasyimi dari Tunisia, yang kemudian juga menjadi pelopor kepanduan di kalangan Muslimin Indonesia.


Sekolah Jam’iyyat Khair sangat menekankan perlunya ilmu alat seperti bahasa Arab karena sangat diperlukan untuk memahami teks-teks Islam, di samping juga memberikan pelajaran bahasa Melayu dan bahasa Inggris. Penulis sendiri pernah menjumpai alumni Jam’iyyat Khair di masa lalu yang menguasai bahasa Arab dengan baik semata-mata lewat proses belajar di sekolah dasar dan menengah Jam’iyyat Khair. Sayangnya, kini,  hal positif ini belakangan tidak lagi dijumpai pada sekolah ini.
Pada pertengahan tahun 1910-an Jam’iyyat Khair mengalami perpecahan dan sebagian pengurusnya mendirikan perkumpulan baru bernama al-Irsyad, dipimpin oleh Ahmad Soorkatti. Jam’iyyat Khair sendiri yang awalnya juga berkiprah di bidang sosial, ekonomi, dan politik, pada tahun 1919 mengubah anggaran dasarnya dan membatasi kegiatannya hanya pada bidang pendidikan. Setelah itu tampaknya peranan yang dimainkan oleh Jam’iyyat Khair di pentas nasional tidak lagi menonjol, kalau tidak dikatakan semakin mundur. Bagaimanapun, lembaga pendidikan yang sudah berusia 115 tahun ini masih tetap eksis hingga sekarang. Semoga ke depannya Jamiat Kheir mampu merevitalisasi dirinya dan kembali memberi kontribusi penting bagi dunia pendidikan di Tanah Air.

Hensu79, sumber: insist.id (wadah Intelektual Muslim Indonesia dalam Bidang Pemikiran Islam)
Share:

Selasa, 13 Desember 2016

Kebiadaban PKI Madiun 1948 Terhadap Ulama NU


“Tanggal 18 September 1948 pagi sebelum terbit fajar, sekitar 1500 orang pasukan FDR/PKI – 700 orang diantaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Pandjang Djoko Prijono – bergerak ke pusat Kota Madiun. Kesatuan CPM, TNI, Polisi, aparat pemerintahan sipil terkejut ketika diserang mendadak. Terjadi perlawanan singkat di markas TNI, kantor CPM, kantor Polisi. Pasukan Pesindo bergerak cepat menguasai tempat-tempat strategis di Madiun. Saat fajar terbit, Madiun sudah jatuh ke tangan FDR/PKI. Sekitar 350 orang ditahan.“

KEBERHASILAN FDR/PKI menguasai Madiun disusul terjadinya aksi penjarahan, penangkapan sewenang-wenang terhadap musuh PKI, menembak musuh PKI, kegemparan dan kepanikan pun pecah di kalangan penduduk, diiringi tindakan-tindakan bersifat fasisme yang berlangsung dengan mengerikan. Semua pimpinan Masyumi dan PNI ditangkap atau dibunuh. Orang-orang berpakaian Warok Ponorogo dengan senjata revolver dan kelewang menembak atau menyembelih orang-orang yang dianggap musuh PKI. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan. Bendera merah putih dirobek diganti bendera merah berlambang palu arit. Potret Soekarno diganti potret Moeso. Seorang wartawan Sin Po yang berada di Madiun, menuliskan detik-detik ketika PKI pamer kekejaman itu dalam reportase yang diberi judul: ‘Kekedjeman kaoem Communist; Golongan Masjoemi menderita paling heibat; Bangsa Tionghoa “ketjipratan” djoega.’

Pada detik, menit dan jam yang hampir sama, di Kota Magetan sekitar 1.000 orang pasukan FDR/PKI – 700 orang diantaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Moersjid — bergerak cepat menyerbu Kabupaten, kantor Komando Distrik Militer (Kodim), Kantor Onder Distrik Militer (Koramil), Kantor Resort Polisi, rumah kepala pengadilan, dan kantor pemerintahan sipil di Magetan. Sama dengan penyerangan mendadak di Madiun, setelah menguasai Kota Magetan dan menawan Bupati, Patih, Sekretaris Kabupaten, Jaksa, Ketua Pengadilan, Kapolres, komandan Kodim, dan aparat Kabupaten Magetan, terjadi aksi penangkapan terhadap tokoh-tokoh Masyumi dan PNI di kampung-kampung, pesantren-pesantren, desa-desa, pabrik gula, diikuti penjarahan, penyiksaan, dan bahkan pembunuhan. Wartawan Gadis Rasid yang menyaksikan pembantaian massal di Gorang-gareng, Magetan, menulis reportase tentang kebiadaban FDR/PKI tersebut. Pembunuhan, perampokan dan penangkapan yang dilakukan FDR/PKI itu diberitakan surat kabar Merdeka 1 November 1948.

Meski tidak sama dengan aksi serangan di Madiun dan Magetan yang sukses mengambil alih pemerintahan, serangan mendadak yang sama pada pagi hari tanggal 18 September 1948 itu dilakukan oleh pasukan FDR/PKI di Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang, Cepu. Sama dengan di Madiun dan Magetan, aksi serangan FDR/PKI meninggalkan jejak pembantaian massal terhadap musuh-musuh mereka. Antropolog Amerika, Robert Jay, yang ke Jawa Tengah tahun 1953 mencatat bagaimana PKI melenyapkan tidak hanya pejabat pemerintah, tapi juga penduduk, terutama ulama-ulama ortodoks, santri dan mereka yang dikenal karena kesalehannya kepada Islam: mereka itu ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang-cincang. Mesjid dan madrasah dibakar, bahkan ulama dan santri-santrinya dikunci di dalam madrasah, lalu madrasahnya dibakar. Tentu mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ulama itu orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik yang tidak melawan. Setelah itu, rumah-rumah pemeluk Islam dirampok dan dirusak.

Tindakan kejam FDR/PKI selama menjalankan aksi kudeta itu menyulut amarah Presiden Soekarno yang mengecam tindakan tersebut dalam pidato yang berisi seruan bagi “rakyat Indonesia untuk menentukan nasib sendiri dengan memilih: ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia merdeka-atau ikut Soekarno-Hatta, yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia ke Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun juga. Presiden Soekarno menyeru agar rakyat membantu alat pemerintah untuk memberantas semua pemberontakan dan mengembalikan pemerintahan yang sah di daerah. Madiun harus lekas di tangan kita kembali.”

Seruan Presiden Soekarno disambut oleh Menteri Hamengkubuwono yang disusul sambutan Menteri Soekiman dan Jenderal Soedirman yang membacakan surat keputusan pengangkatan Mayor Jenderal Soengkono sebagai panglima militer Jawa Timur. Tanggal 23 September 1948 Menteri Agama KH Masjkoer mengucapkan pidato radio yang tegas menyebutkan bahwa tindakan merebut kekuasaan bertentangan dengan agama dan sama seperti perbuatan permusuhan orang-orang yang pro Belanda. Dengan janji-janji palsu rakyat dipengaruhi, dibujuk, dihasut, dipaksa dan dijadikan tameng oleh PKI Moeso.

Pidato Menteri Agama KH Masjkoer yang menyatakan bahwa rakyat dipengaruhi, dibujuk, dihasut, dipaksa dan dijadikan tameng oleh PKI Moeso tidak mengada-ada. Itu bukti sewaktu pidato Presiden Soekarno dicetak sebagai selebaran yang disebarkan kepada penduduk melalui pesawat terbang. Seketika – usai membaca selebaran berisi pidato Presiden Soekarno – penduduk yang dipersenjatai oleh PKI beramai-ramai meletakkan senjata. Mereka duduk di trotoar jalan dalam keadaan bingung. Mereka terkejut dan bingung sewaktu sadar bahwa gerakan yang mereka lakukan itu ternyata ditujukan untuk melawan Presiden Soekarno. Mereka pun mulai bertanya-tanya tentang siapa sejatinya Moeso yang mengaku pemimpin rakyat itu.

Sejarah mencatat, bahwa antara tanggal 18 – 21 September 1948 gerakan makar FDR/PKI yang dilakukan dengan sangat cepat itu tidak bisa dimaknai lain kecuali sebagai pemberontakan. Sebab dalam tempo hanya tiga hari, FDR/PKI telah membunuh pejabat-pejabat negara baik sipil maupun militer, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh pendidikan, bahkan tokoh agama. Dengan kekejaman khas kaum komunis – seperti kelak dipraktekkan lagi di Kampuchea selama rezim Pol Pot berkuasa — bagian terbesar dari mayat-mayat yang dibunuh dengan sangat kejam oleh FDR/PKI itu dimasukkan ke dalam sumur-sumur “neraka” secara tumpuk-menumpuk dan tumpang-tindih. Sebagian lagi di antara tawanan FDR/PKI ditembak di “Ladang Pembantaian” di Pabrik Gula Gorang-gareng maupun di Alas Tuwa.

Setelah gerakan makar FDR/PKI berhasil ditumpas oleh TNI yang dibantu masyarakat, awal Januari tahun 1950 sumur-sumur “neraka” yang digunakan FDR/PKI mengubur korban-korban kekejaman mereka dibongkar oleh pemerintah. Berpuluh-puluh ribu masyarakat dari Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek berdatangan menyaksikan pembongkaran sumur-sumur “neraka”. Mereka bukan sekedar melihat peristiwa langka itu, kebanyakan mereka mencari anggota keluarganya yang diculik PKI.

Diantara sumur-sumur “neraka” yang dibongkar itu, informasinya diketahui justru berdasar pengakuan orang-orang PKI sendiri. Dalam proses pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu terdapat tujuh lokasi ditambah dua lokasi pembantaian di Magetan, yaitu: 1. sumur “neraka” Desa Dijenan, Kec.Ngadirejo, Kab.Magetan; 2. Sumur “neraka” I Desa Soco, Kec.Bendo, Kab.Magetan; 3. Sumur “neraka” II Desa Soco, Kec.Bendo, Kab,Magetan; 4. Sumur “neraka” Desa Cigrok, Kec.Kenongomulyo, Kab.Magetan, 5. Sumur “neraka” Desa Pojok, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; 6. Sumur “neraka” Desa Batokan, Kec.Banjarejo, Kab.Magetan; 7. Sumur “neraka” Desa Bogem, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; dan dua lokasi killing fields yang digunakan FDR/PKI membantai musuh-musuhnya, yaitu ruang kantor dan halaman Pabrik Gula Gorang-gareng dan Alas Tuwa di dekat Desa Geni Langit di Magetan.

Fakta kekejaman FDR/PKI dalam gerakan pemberontakan tahun 1948 disaksikan puluhan ribu warga masyarakat yang menonton pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu, yang setelah diidentifikasi diperoleh sejumlah nama pejabat pemerintahan sipil maupun TNI, ulama, tokoh Masjoemi, tokoh PNI, Polisi, Camat, Kepala Desa, bahkan Guru. Berikut daftar sebagian nama-nama korban kekejaman FDR/PKI tahun 1948 yang diperoleh dari pembongkaran sumur “neraka” Soco I dan sumur “neraka” Soco II, yang terletak di Desa Soco, Kec. Bendo, Kab.Magetan:

SUMUR “NERAKA” SOCO I:
1. Soehoed, camat Magetan;
2. R. Moerti, Kepala Pengadilan Magetan;
3. Mas Ngabehi Soedibyo, Bupati Magetan;
4. R. Soebianto;
5. R. Soekardono, Patih Magetan;
6. Soebirin;
7. Imam Hadi;
8. R. Joedo Koesoemo;
9. Soemardji; 10. Soetjipto;
11. Iskak;
12. Soelaiman;
13. Hadi Soewirjo;
14. Soedjak;
15. Soetedjo;
16. Soekadi;
17. Imam Soedjono;
18. Pamoedji;
19. Soerat Atim;
20. Hardjo Roedino;
21. Mahardjono;
22. Soerjawan;
23. Oemar Danoes;
24. Mochammad Samsoeri;
25. Soemono;
26. Karyadi;
27. Soerdradjat;
28. Bambang Joewono;
29. Soepaijo;
30. Marsaid;
31. Soebargi;
32. Soejadijo.
33. Ridwan;
34. Marto Ngoetomo;
35. Hadji Afandi;
36. Hadji Soewignjo;
37. Hadji Doelah;
38. Amat Is;
39. Hadji Soewignyo;
40. Sakidi;
41. Nyonya Sakidi;
42. Sarman;
43. Soemokidjan;
44. Irawan;
45. Soemarno;
46. Marni;
47. Kaslan;
48. Soetokarijo;
49. Kasan Redjo;
50. Soeparno;
51. Soekar;
52. Samidi;
53. Soebandi;
54. Raden Noto Amidjojo;
55. Soekoen;
56. Pangat B;
57. Soeparno;
58. Soetojo;
59. Sarman;
60. Moekiman;
61. Soekiman;
62. Pangat/Hardjo;
63. Sarkoen B;
64. Sarkoen A;
65. Kasan Diwirjo;
66. Moeanan;
67. Haroen;
68. Ismail.
ada sekitar 40 mayat tidak dikenali karena bukan warga Magetan.

SUMUR “NERAKA” SOCO II:

1. R. Ismaiadi, Kepala Resort Polisi Magetan;
2. R.Doerjat, Inspektur Polisi Magetan;
3. Kasianto, anggota Polri;
4. Soebianto, anggota Polri;
5. Kholis, anggota Polri;
6. Soekir, anggota Polri;
7. Bamudji, Pembantu Sekretaris BTT;
8. Oemar Damos, Kepala Jawatan Penerangan Magetan;
9. Rofingi Tjiptomartono, Wedana Magetan;
10. Bani, APP. Upas;
11. Soemingan, APP.Upas;
12. Baidowi;
13. Naib Bendo;
14. Reso Siswojo;
15. Kusnandar, Guru;
16. Soejoedono, Adm PG Rejosari;
17. Kjai Imam Mursjid Muttaqin, Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran;
18. Kjai Zoebair;
19. Kjai Malik;
20. Kjai Noeroen;
21. Kjai Moch. Noor.”

Tindak kebiadaban FDR/PKI selama melakukan aksi makarnya tahun 1948 yang disaksikan puluhan ribu penduduk laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak yang menonton pengangkatan jenazah para korban dari sumur-sumur “neraka” yang tersebar di Magetan dan Madiun, adalah rekaman peristiwa yang tidak akan terlupakan. Peristiwa pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu telah memunculkan asumsi abadi dalam ingatan bawah sadar masyarakat bahwa PKI memiliki hubungan erat dengan pembunuhan manusia yang dimasukkan ke dalam sumur “neraka”. Itu sebabnya, ketika tanggal 1 Oktober 1965 tersiar kabar para jenderal TNI AD diculik PKI dan kemudian ditemukan sudah menjadi mayat di dalam sumur “neraka” Lubang Buaya di dekat Halim, amarah masyarakat seketika meledak terhadap PKI, termasuk di lingkungan aktivis Gerakan Pemuda Ansor yang sejak 1964 membentuk Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di berbagai daerah yang dilatih kemiliteran karena memenuhi keinginan Presiden Soekarno membentuk kekuatan sukarelawan untuk mengganyang Malaysia, di mana anggota Banser yang emosinya tak terkendali – terutama setelah tewasnya 155 orang anggota Ansor Banyuwangi yang dibunuh PKI – dimanfaatkan oleh pihak militer untuk bersama-sama menumpas kekuatan PKI yang telah membunuh para jenderal mereka.

Artikel ini ditulis oleh Agus Sunyoto.
Pertama kali dimuat di buletin Risalah edisi 36 tahun IV 1433 H/ 2012 hal 24-29, dipublikasikan ulang oleh blog  remental.blogspot.co.id (blog telah di hapus oleh google). 
Penulis adalah peneliti sejarah peristiwa Madiun 1948 yang diterbitkan dalam buku berjudul “LUBANG-LUBANG PEMBANTAIAN: GERAKAN MAKAR FDR/PKI 1948 DI MADIUN” (1990).
Penulis peneliti konflik Banser-PKI 1965 di Jawa Tengah yang diterbitkan dalam buku berjudul “BANSER BERJIHAD MENUMPAS PKI” (1995).
Penulis peneliti operasi Trisula 1966-1968 di Blitar yang dimuat bersambung di harian Jawa Pos September-Oktober 1995.
Share:

Social

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Arsip Blog

Theme Support